Namaku Maya, umurku 35 thn. Aku sudah berkeluarga dan memiliki 2 anak yang lucu - lucu. Aku masih menyimpan ingatan yang jelas tentang ayahku. Dan semuanya dimulai dari sana.
Saat umur 10 tahun, aku baru pulang sekolah di siang hari. Dan aku mengharapkan akan ada ibuku di rumah yang menyambutku saat aku tiba di rumah. Ternyata yang ada hanyalah suara pertengkaran antara ayah dan ibuku lagi. Nenekku segera menyuruhku masuk dan makan siang. Sembari menemaniku makan, nenek bilang " cepetan habiskan makananmu, abis itu masuk ke kamtar saja!" Aku mengikuti perintah nenek, tanpa tahu apa sebab pertengkaran ayah dan ibu.
Saat umur 11 tahun, tiba - tiba ibuku menangis meraung-raung. dan hanya beberapa patah kata yang keluar dari mulutnya " Dasar laki-laki bajingan, kurang ajar. tega-teganya dia kabur dengan wanita lain!!" Aku masih terdiam dan termanggu. Aku bingung dengan siapa kah orang yang dimaksud oleh ibuku itu? Hatiku bertanya-tanya tapi aku tak mau berucap. Sore hari nya tiba-tiba rumah kami digedor oleh 2 orang preman dan adik ayahku. Kupikir pamanku itu akan datang untuk berkunjung saja. Tapi aku salah. Kulihat preman- preman itu memukuli ibuku, pamanku hanya duduk menonton sambil berkata " kembalikan uangku dulu. Baru kau bisa panggil aku IPAR mu !!"
Ibuku menangis kesakitan dan nenekku lari menghampirinya. Nenek bilang " kamu kan tahu bahwa abangmu sudah lari meninggalkan istri dan anak nya. Dia yang membawa uangmu. Anakku ini tidak bersalah apapun juga !" Mendengar kata nenekku, aku baru mengerti kenyataan nya. Dan aku pun menangis tersedu-sedu.
Aku hanya bisa berpikir dalam hati, ayah macam apakah itu??
Tak tahan dengan kesedihanku itu, aku bertanya " Kemana ayahku lari?" paman jawab " dia sudah kawin lagi di kota lain. dengan janda anak 2. Dia sudah bilang gak akan pulang lagi kesini.!!" Aku begitu terpukul dan aku pun menjawab " bilang padanya, aku sudah tidak punya bapak lagi. Dia sudah aku anggap mati sejak hari ini. dan jangan pernah menyesal suatu hari nanti. Karena saat dia mati, aku tidak akan mau berdiri di kuburannya."
Ibu malah menjadi marah dan dia bilang " kamu tidak boleh bilang gitu. Bagaimana pun juga dia bapakmu. Jangan jadi durhaka."
Aduh bu, tahukah engkau betapa marahnya aku dan kecewanya aku sampai aku bisa mengatakan seperti itu.. aku berpikir bahwa engkau sudah cukup berkorban dan hidup menderita untuk kami semua nya.
Kenangan itu yang akan kubawa sampai mati dan mungkin tak tergantikan oleh apapun.. Sekarang di usiaku ini, aku mulai berpikir kembali dan aku tak pernah menyesali satu kali pun tentang ucapanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar