Perasaanku makin tak menentu.. sampai aku pun tak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan.. yang aku inginkan ataupun yang aku mimpikan...
Yang aku pelajari selama ini adalah bahwa pernikahan itu adalah sebuah sandiwara.. sebuah kebohongan besar yang makin hari makin bertumpuk.. sebuah drama yang tak akan pernah habisnya..
Kenapa??
Karena dalam pernikahan, kita harus berpura-pura sayang kepada ipar, mertua, dan lain-lain .. walau kadang sayang itu memang ada.. tapi sisanya lebih banyak pura-pura..
Kita harus berpura-pura bahagia.. walaupun hati kita menangis. Hati kita ingin bebas atau remuk redam..
Kita harus berpura-pura menyukai apapun yang dia suka.. berpura-pura untuk menerima apapun yang mereka katakan dan berpura-pura untuk menjadi orang yang baik dan manis..
Berapa lama kita harus bertahan?
Berapa lama kita harus menerima?
Pernikahan tak jauh dengan politik.. segala gerakan kita harus diperhitungkan dengan hati-hati dan cermat. Karena segalanya pasti akan ada kebohongan di baliknya..
Semakin kurasakan, semakin hampa hatiku.. apakah aku bahagia? itu yang selalu terngiang di otakku.. Setiap hari, setiap kegiatan, selalu sama.. aku takut lama-lama aku akan menjadi tidak tertarik terhadap apapun juga.
Jujur sudah kurasakan ke tidak tertarikan lagi terhadap sex , suamiku dan segala rutinitasku... Sudah 3 tahun kurasakan dan setiap hari aku selalu memakai topeng tersenyum seakan tiada beban atau pikiran..
Apa yang harus kulakukan? apakah aku perlu menemui psikiater? apakah aku depresi? apakah aku sudah tidak waras?
Aku takut hal ini yang akan membuatku semakin dalam di lubang yang tergelap dalam hidupku.
Jumat, 31 Oktober 2014
Senin, 20 Oktober 2014
cintaku tak berujung part 3
Namaku Maya. Aku mencapai usia 36 tahun sekarang. Dan hidupku bahagia dengan 2 anak yang lucu - lucu..
Aku bertemu dengan Lily di sebuah kursus kepribadian di Jakarta. Aku mengambil kursus itu hanya untuk mengisi waktu luangku sebelum aku mulai mencari kerja. Lily cantik, putih dan memiliki kepribadian yang easygoing. Kami sering pergi bersama dan makan bersama.
Suatu hari, Lily mengajakku untuk berenang bersama. Setelah berenang, kami dijemput oleh seorang cowok. Lily bilang temannya. Namanya Herman. Sampai di apartemen Lily, Herman berkata kepadaku untuk tetap menunggu di mobil. karena setelah itu dia yang akan mengantarku pulang. Lily meyakinkanku bahwa Herman baik dan tidak akan berbuat jahat kepadaku.
Aku pun menurut saja. Saat turun dari mobil, aku melihat Herman mencium Lily. Dan kupikir dia adalah pacar nya. Kutunggu di dalam mobil selama 30 menit. Baru lah Herman kembali.Dia tersenyum lebar seakan senyum kemenangan. Sepanajan jalan pulang, dia mengajakku bicara. Dan sampai depan rumah, dia meminta nomor teleponku. Aku menolak memberikannya dengan alasan dia adalah pacar Lily dan tidak sepatutnya meminta nomorku.
Keesokan harinya, Lily dan aku pergi makan. " Li, Herman itu siapamu sih? Pacar?" Tanyaku.
Lily jawab " Bukan nek, dia itu cuma sekedar cem-cem an aja. Pacarku si A itu. yang rumahnya deket komplekmu. " Aku pun bertanya lagi " Cem-cem an gimana? Jadi elo selingkuh nih? " dan jawaban yang ku terima sungguh mengejutkan. " Ya semacem itu nek. Cuma dia yang kasih gue duit buat kontrak apartemen dan biaya bulanan. Dia yang piara gue. Gitu deh nek."
Tak disangka Herman datang dan bergabung bersama kita. Kami pun mengobrol dan bercanda bertiga. Sampai saat pulang, Herman menawarkan diri untuk mengantarku pulang karena komplek rumahnya dekat dengan rumahku. Lily pun memintaku untuk pulang bersama Herman. karena dia masih ada keperluan yang lain.
Di perjalanan pulang, Herman meminta nomor telponku kembali. Dan kali ini aku bilang " Man, kamu udah ada Lily. sebaiknya urusi dulu aja hubunganmu sama dia." Tak kusangka, dia jawab " Aku akan putuskan Lily kalau kamu mau kasih nomor telponmu. Aku juga sudah tahu rumahmu. jadi tidak akan susah buatku untuk mencarimu"
Bodoh.. memang aku bodoh sekali. dia tahu rumahku. itu lah kesalahanku. Sejak hari itu, Herman datang hampir setiap malam ke rumahku. dan aku tak tahu bagaimana dengan Lily, karena dia tiba-tiba saja tidak mau menjawab telepon dan sms ku.
Setiap kali Herman datang, aku tak mau keluar dari kamarku. akhirnya Herman hanya lah berakhir duduk di ruang tamu ditemani oleh paman dan bibiku. Sampai suatu hari bibiku bilang " Sayang, kamu harus mencoba pergi dan kenal dengan Herman. Dia sepertinya anak baik-baik." Duh tak sampai hati rasanya untuk bilang bahwa Herman lah yang selama ini piara Lily. hatiku seperti remuk dan bingung tak tahu harus bagaimana.
Sabtu itu, tiba-tiba Herman datang ke rumah dan memintaku untuk pergi makan dengan nya. Bibiku bilang " pergilah. Kamu harus pergi dan bersenang-senang. Lupakan Edo. Karena Edo tak akan kembali. ini waktumu untuk menemukan pengganti Edo."
Aku pun akhirnya mau pergi dengan Herman. Dia mengajakku ke karaoke. di dalamnya sudah penuh banyak orang yang tidak kukenal. Aku hanya duduk sendiri karena Herman terlalu sibuk dengan teman-teman nya. Ada satu cowok mendekatiku dan mengajakku bicara. Dia memberikanku kartu namanya. Dan kubaca sekilas kartu itu. Namanya Teo (* suamiku sekarang ini). Jam 10, aku pun meminta Herman untuk mengantarkanku pulang. Di jalan, Aku bilang kepadanya bahwa aku sedang mencari pekerjaan. Dan terasa susah untukku mendapatkan satu pekerjaan.
Herman meminta padaku untuk memberikan resume ku dan dia berjanji akan membantuku mencari pekerjaan. Tak kusangka, Herman membantu memeriksa resumeku dan memberitahuku bagian-bagian yang harus diganti. Dan 2 minggu setelah itu, aku pun mendapat panggilan kerja dari salah satu bank swasta. Well, thanks to Herman.
Herman datang ke rumahku lagi. Dia bilang " Hey congrats ya. udah dapet kerjaan.. ayo sekarang traktir makan dong.. kan aku yang bantuin kamu buat masuk kerja." Kupikir ya tak ada salahnya dengan mentraktirnya makan. Bagaimana pun juga aku harus berterima kasih kepadanya.
Kami pergi makan sop buntut. Dan yang tak kusangka adalah, dia meminta imbalan lain utnuk membayar jasanya. Dia meminta sebuah ciuman dariku. Aku marah dan merasa tersinggung. Tapi aku juga takut karena kami sedang berada jauh dan aku tidak tahu jalan pulang. Aku mengancam nya akan telepon ke rumah dan meminta dijemput apabila dia tidak mengantarkanku pulang segera.
Herman akhirnya mau untuk pulang. Dan di tengah jalan pulang, dia tiba-tiba menghentikan mobilnya dan memaksaku untuk berciuman. Aku sangat marah dan kutampar wajahnya. Herman pun mengeluarkan pistol dari kakinya dan dia bilang akan menembakku apabila aku memukulnya lagi.
Aku takut.. sangat takut untuk menceritakan semua itu kepada bibiku. Sampai di rumah aku hanya bisa menangis dan menyesali semuanya. Tapi aku tak punya siapa-siapa untuk bercerita.. Sejak saat itu, aku tidak pernah mau bertemu dan melihat Herman lagi. Kuanggap semuanya sudah tutup buku dan hanyalan menjadi masa lalu yang kelam lagi bagiku.
Another chapter of my life....
Aku bertemu dengan Lily di sebuah kursus kepribadian di Jakarta. Aku mengambil kursus itu hanya untuk mengisi waktu luangku sebelum aku mulai mencari kerja. Lily cantik, putih dan memiliki kepribadian yang easygoing. Kami sering pergi bersama dan makan bersama.
Suatu hari, Lily mengajakku untuk berenang bersama. Setelah berenang, kami dijemput oleh seorang cowok. Lily bilang temannya. Namanya Herman. Sampai di apartemen Lily, Herman berkata kepadaku untuk tetap menunggu di mobil. karena setelah itu dia yang akan mengantarku pulang. Lily meyakinkanku bahwa Herman baik dan tidak akan berbuat jahat kepadaku.
Aku pun menurut saja. Saat turun dari mobil, aku melihat Herman mencium Lily. Dan kupikir dia adalah pacar nya. Kutunggu di dalam mobil selama 30 menit. Baru lah Herman kembali.Dia tersenyum lebar seakan senyum kemenangan. Sepanajan jalan pulang, dia mengajakku bicara. Dan sampai depan rumah, dia meminta nomor teleponku. Aku menolak memberikannya dengan alasan dia adalah pacar Lily dan tidak sepatutnya meminta nomorku.
Keesokan harinya, Lily dan aku pergi makan. " Li, Herman itu siapamu sih? Pacar?" Tanyaku.
Lily jawab " Bukan nek, dia itu cuma sekedar cem-cem an aja. Pacarku si A itu. yang rumahnya deket komplekmu. " Aku pun bertanya lagi " Cem-cem an gimana? Jadi elo selingkuh nih? " dan jawaban yang ku terima sungguh mengejutkan. " Ya semacem itu nek. Cuma dia yang kasih gue duit buat kontrak apartemen dan biaya bulanan. Dia yang piara gue. Gitu deh nek."
Tak disangka Herman datang dan bergabung bersama kita. Kami pun mengobrol dan bercanda bertiga. Sampai saat pulang, Herman menawarkan diri untuk mengantarku pulang karena komplek rumahnya dekat dengan rumahku. Lily pun memintaku untuk pulang bersama Herman. karena dia masih ada keperluan yang lain.
Di perjalanan pulang, Herman meminta nomor telponku kembali. Dan kali ini aku bilang " Man, kamu udah ada Lily. sebaiknya urusi dulu aja hubunganmu sama dia." Tak kusangka, dia jawab " Aku akan putuskan Lily kalau kamu mau kasih nomor telponmu. Aku juga sudah tahu rumahmu. jadi tidak akan susah buatku untuk mencarimu"
Bodoh.. memang aku bodoh sekali. dia tahu rumahku. itu lah kesalahanku. Sejak hari itu, Herman datang hampir setiap malam ke rumahku. dan aku tak tahu bagaimana dengan Lily, karena dia tiba-tiba saja tidak mau menjawab telepon dan sms ku.
Setiap kali Herman datang, aku tak mau keluar dari kamarku. akhirnya Herman hanya lah berakhir duduk di ruang tamu ditemani oleh paman dan bibiku. Sampai suatu hari bibiku bilang " Sayang, kamu harus mencoba pergi dan kenal dengan Herman. Dia sepertinya anak baik-baik." Duh tak sampai hati rasanya untuk bilang bahwa Herman lah yang selama ini piara Lily. hatiku seperti remuk dan bingung tak tahu harus bagaimana.
Sabtu itu, tiba-tiba Herman datang ke rumah dan memintaku untuk pergi makan dengan nya. Bibiku bilang " pergilah. Kamu harus pergi dan bersenang-senang. Lupakan Edo. Karena Edo tak akan kembali. ini waktumu untuk menemukan pengganti Edo."
Aku pun akhirnya mau pergi dengan Herman. Dia mengajakku ke karaoke. di dalamnya sudah penuh banyak orang yang tidak kukenal. Aku hanya duduk sendiri karena Herman terlalu sibuk dengan teman-teman nya. Ada satu cowok mendekatiku dan mengajakku bicara. Dia memberikanku kartu namanya. Dan kubaca sekilas kartu itu. Namanya Teo (* suamiku sekarang ini). Jam 10, aku pun meminta Herman untuk mengantarkanku pulang. Di jalan, Aku bilang kepadanya bahwa aku sedang mencari pekerjaan. Dan terasa susah untukku mendapatkan satu pekerjaan.
Herman meminta padaku untuk memberikan resume ku dan dia berjanji akan membantuku mencari pekerjaan. Tak kusangka, Herman membantu memeriksa resumeku dan memberitahuku bagian-bagian yang harus diganti. Dan 2 minggu setelah itu, aku pun mendapat panggilan kerja dari salah satu bank swasta. Well, thanks to Herman.
Herman datang ke rumahku lagi. Dia bilang " Hey congrats ya. udah dapet kerjaan.. ayo sekarang traktir makan dong.. kan aku yang bantuin kamu buat masuk kerja." Kupikir ya tak ada salahnya dengan mentraktirnya makan. Bagaimana pun juga aku harus berterima kasih kepadanya.
Kami pergi makan sop buntut. Dan yang tak kusangka adalah, dia meminta imbalan lain utnuk membayar jasanya. Dia meminta sebuah ciuman dariku. Aku marah dan merasa tersinggung. Tapi aku juga takut karena kami sedang berada jauh dan aku tidak tahu jalan pulang. Aku mengancam nya akan telepon ke rumah dan meminta dijemput apabila dia tidak mengantarkanku pulang segera.
Herman akhirnya mau untuk pulang. Dan di tengah jalan pulang, dia tiba-tiba menghentikan mobilnya dan memaksaku untuk berciuman. Aku sangat marah dan kutampar wajahnya. Herman pun mengeluarkan pistol dari kakinya dan dia bilang akan menembakku apabila aku memukulnya lagi.
Aku takut.. sangat takut untuk menceritakan semua itu kepada bibiku. Sampai di rumah aku hanya bisa menangis dan menyesali semuanya. Tapi aku tak punya siapa-siapa untuk bercerita.. Sejak saat itu, aku tidak pernah mau bertemu dan melihat Herman lagi. Kuanggap semuanya sudah tutup buku dan hanyalan menjadi masa lalu yang kelam lagi bagiku.
Another chapter of my life....
Langganan:
Postingan (Atom)