Perasaanku makin tak menentu.. sampai aku pun tak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan.. yang aku inginkan ataupun yang aku mimpikan...
Yang aku pelajari selama ini adalah bahwa pernikahan itu adalah sebuah sandiwara.. sebuah kebohongan besar yang makin hari makin bertumpuk.. sebuah drama yang tak akan pernah habisnya..
Kenapa??
Karena dalam pernikahan, kita harus berpura-pura sayang kepada ipar, mertua, dan lain-lain .. walau kadang sayang itu memang ada.. tapi sisanya lebih banyak pura-pura..
Kita harus berpura-pura bahagia.. walaupun hati kita menangis. Hati kita ingin bebas atau remuk redam..
Kita harus berpura-pura menyukai apapun yang dia suka.. berpura-pura untuk menerima apapun yang mereka katakan dan berpura-pura untuk menjadi orang yang baik dan manis..
Berapa lama kita harus bertahan?
Berapa lama kita harus menerima?
Pernikahan tak jauh dengan politik.. segala gerakan kita harus diperhitungkan dengan hati-hati dan cermat. Karena segalanya pasti akan ada kebohongan di baliknya..
Semakin kurasakan, semakin hampa hatiku.. apakah aku bahagia? itu yang selalu terngiang di otakku.. Setiap hari, setiap kegiatan, selalu sama.. aku takut lama-lama aku akan menjadi tidak tertarik terhadap apapun juga.
Jujur sudah kurasakan ke tidak tertarikan lagi terhadap sex , suamiku dan segala rutinitasku... Sudah 3 tahun kurasakan dan setiap hari aku selalu memakai topeng tersenyum seakan tiada beban atau pikiran..
Apa yang harus kulakukan? apakah aku perlu menemui psikiater? apakah aku depresi? apakah aku sudah tidak waras?
Aku takut hal ini yang akan membuatku semakin dalam di lubang yang tergelap dalam hidupku.
Jumat, 31 Oktober 2014
Senin, 20 Oktober 2014
cintaku tak berujung part 3
Namaku Maya. Aku mencapai usia 36 tahun sekarang. Dan hidupku bahagia dengan 2 anak yang lucu - lucu..
Aku bertemu dengan Lily di sebuah kursus kepribadian di Jakarta. Aku mengambil kursus itu hanya untuk mengisi waktu luangku sebelum aku mulai mencari kerja. Lily cantik, putih dan memiliki kepribadian yang easygoing. Kami sering pergi bersama dan makan bersama.
Suatu hari, Lily mengajakku untuk berenang bersama. Setelah berenang, kami dijemput oleh seorang cowok. Lily bilang temannya. Namanya Herman. Sampai di apartemen Lily, Herman berkata kepadaku untuk tetap menunggu di mobil. karena setelah itu dia yang akan mengantarku pulang. Lily meyakinkanku bahwa Herman baik dan tidak akan berbuat jahat kepadaku.
Aku pun menurut saja. Saat turun dari mobil, aku melihat Herman mencium Lily. Dan kupikir dia adalah pacar nya. Kutunggu di dalam mobil selama 30 menit. Baru lah Herman kembali.Dia tersenyum lebar seakan senyum kemenangan. Sepanajan jalan pulang, dia mengajakku bicara. Dan sampai depan rumah, dia meminta nomor teleponku. Aku menolak memberikannya dengan alasan dia adalah pacar Lily dan tidak sepatutnya meminta nomorku.
Keesokan harinya, Lily dan aku pergi makan. " Li, Herman itu siapamu sih? Pacar?" Tanyaku.
Lily jawab " Bukan nek, dia itu cuma sekedar cem-cem an aja. Pacarku si A itu. yang rumahnya deket komplekmu. " Aku pun bertanya lagi " Cem-cem an gimana? Jadi elo selingkuh nih? " dan jawaban yang ku terima sungguh mengejutkan. " Ya semacem itu nek. Cuma dia yang kasih gue duit buat kontrak apartemen dan biaya bulanan. Dia yang piara gue. Gitu deh nek."
Tak disangka Herman datang dan bergabung bersama kita. Kami pun mengobrol dan bercanda bertiga. Sampai saat pulang, Herman menawarkan diri untuk mengantarku pulang karena komplek rumahnya dekat dengan rumahku. Lily pun memintaku untuk pulang bersama Herman. karena dia masih ada keperluan yang lain.
Di perjalanan pulang, Herman meminta nomor telponku kembali. Dan kali ini aku bilang " Man, kamu udah ada Lily. sebaiknya urusi dulu aja hubunganmu sama dia." Tak kusangka, dia jawab " Aku akan putuskan Lily kalau kamu mau kasih nomor telponmu. Aku juga sudah tahu rumahmu. jadi tidak akan susah buatku untuk mencarimu"
Bodoh.. memang aku bodoh sekali. dia tahu rumahku. itu lah kesalahanku. Sejak hari itu, Herman datang hampir setiap malam ke rumahku. dan aku tak tahu bagaimana dengan Lily, karena dia tiba-tiba saja tidak mau menjawab telepon dan sms ku.
Setiap kali Herman datang, aku tak mau keluar dari kamarku. akhirnya Herman hanya lah berakhir duduk di ruang tamu ditemani oleh paman dan bibiku. Sampai suatu hari bibiku bilang " Sayang, kamu harus mencoba pergi dan kenal dengan Herman. Dia sepertinya anak baik-baik." Duh tak sampai hati rasanya untuk bilang bahwa Herman lah yang selama ini piara Lily. hatiku seperti remuk dan bingung tak tahu harus bagaimana.
Sabtu itu, tiba-tiba Herman datang ke rumah dan memintaku untuk pergi makan dengan nya. Bibiku bilang " pergilah. Kamu harus pergi dan bersenang-senang. Lupakan Edo. Karena Edo tak akan kembali. ini waktumu untuk menemukan pengganti Edo."
Aku pun akhirnya mau pergi dengan Herman. Dia mengajakku ke karaoke. di dalamnya sudah penuh banyak orang yang tidak kukenal. Aku hanya duduk sendiri karena Herman terlalu sibuk dengan teman-teman nya. Ada satu cowok mendekatiku dan mengajakku bicara. Dia memberikanku kartu namanya. Dan kubaca sekilas kartu itu. Namanya Teo (* suamiku sekarang ini). Jam 10, aku pun meminta Herman untuk mengantarkanku pulang. Di jalan, Aku bilang kepadanya bahwa aku sedang mencari pekerjaan. Dan terasa susah untukku mendapatkan satu pekerjaan.
Herman meminta padaku untuk memberikan resume ku dan dia berjanji akan membantuku mencari pekerjaan. Tak kusangka, Herman membantu memeriksa resumeku dan memberitahuku bagian-bagian yang harus diganti. Dan 2 minggu setelah itu, aku pun mendapat panggilan kerja dari salah satu bank swasta. Well, thanks to Herman.
Herman datang ke rumahku lagi. Dia bilang " Hey congrats ya. udah dapet kerjaan.. ayo sekarang traktir makan dong.. kan aku yang bantuin kamu buat masuk kerja." Kupikir ya tak ada salahnya dengan mentraktirnya makan. Bagaimana pun juga aku harus berterima kasih kepadanya.
Kami pergi makan sop buntut. Dan yang tak kusangka adalah, dia meminta imbalan lain utnuk membayar jasanya. Dia meminta sebuah ciuman dariku. Aku marah dan merasa tersinggung. Tapi aku juga takut karena kami sedang berada jauh dan aku tidak tahu jalan pulang. Aku mengancam nya akan telepon ke rumah dan meminta dijemput apabila dia tidak mengantarkanku pulang segera.
Herman akhirnya mau untuk pulang. Dan di tengah jalan pulang, dia tiba-tiba menghentikan mobilnya dan memaksaku untuk berciuman. Aku sangat marah dan kutampar wajahnya. Herman pun mengeluarkan pistol dari kakinya dan dia bilang akan menembakku apabila aku memukulnya lagi.
Aku takut.. sangat takut untuk menceritakan semua itu kepada bibiku. Sampai di rumah aku hanya bisa menangis dan menyesali semuanya. Tapi aku tak punya siapa-siapa untuk bercerita.. Sejak saat itu, aku tidak pernah mau bertemu dan melihat Herman lagi. Kuanggap semuanya sudah tutup buku dan hanyalan menjadi masa lalu yang kelam lagi bagiku.
Another chapter of my life....
Aku bertemu dengan Lily di sebuah kursus kepribadian di Jakarta. Aku mengambil kursus itu hanya untuk mengisi waktu luangku sebelum aku mulai mencari kerja. Lily cantik, putih dan memiliki kepribadian yang easygoing. Kami sering pergi bersama dan makan bersama.
Suatu hari, Lily mengajakku untuk berenang bersama. Setelah berenang, kami dijemput oleh seorang cowok. Lily bilang temannya. Namanya Herman. Sampai di apartemen Lily, Herman berkata kepadaku untuk tetap menunggu di mobil. karena setelah itu dia yang akan mengantarku pulang. Lily meyakinkanku bahwa Herman baik dan tidak akan berbuat jahat kepadaku.
Aku pun menurut saja. Saat turun dari mobil, aku melihat Herman mencium Lily. Dan kupikir dia adalah pacar nya. Kutunggu di dalam mobil selama 30 menit. Baru lah Herman kembali.Dia tersenyum lebar seakan senyum kemenangan. Sepanajan jalan pulang, dia mengajakku bicara. Dan sampai depan rumah, dia meminta nomor teleponku. Aku menolak memberikannya dengan alasan dia adalah pacar Lily dan tidak sepatutnya meminta nomorku.
Keesokan harinya, Lily dan aku pergi makan. " Li, Herman itu siapamu sih? Pacar?" Tanyaku.
Lily jawab " Bukan nek, dia itu cuma sekedar cem-cem an aja. Pacarku si A itu. yang rumahnya deket komplekmu. " Aku pun bertanya lagi " Cem-cem an gimana? Jadi elo selingkuh nih? " dan jawaban yang ku terima sungguh mengejutkan. " Ya semacem itu nek. Cuma dia yang kasih gue duit buat kontrak apartemen dan biaya bulanan. Dia yang piara gue. Gitu deh nek."
Tak disangka Herman datang dan bergabung bersama kita. Kami pun mengobrol dan bercanda bertiga. Sampai saat pulang, Herman menawarkan diri untuk mengantarku pulang karena komplek rumahnya dekat dengan rumahku. Lily pun memintaku untuk pulang bersama Herman. karena dia masih ada keperluan yang lain.
Di perjalanan pulang, Herman meminta nomor telponku kembali. Dan kali ini aku bilang " Man, kamu udah ada Lily. sebaiknya urusi dulu aja hubunganmu sama dia." Tak kusangka, dia jawab " Aku akan putuskan Lily kalau kamu mau kasih nomor telponmu. Aku juga sudah tahu rumahmu. jadi tidak akan susah buatku untuk mencarimu"
Bodoh.. memang aku bodoh sekali. dia tahu rumahku. itu lah kesalahanku. Sejak hari itu, Herman datang hampir setiap malam ke rumahku. dan aku tak tahu bagaimana dengan Lily, karena dia tiba-tiba saja tidak mau menjawab telepon dan sms ku.
Setiap kali Herman datang, aku tak mau keluar dari kamarku. akhirnya Herman hanya lah berakhir duduk di ruang tamu ditemani oleh paman dan bibiku. Sampai suatu hari bibiku bilang " Sayang, kamu harus mencoba pergi dan kenal dengan Herman. Dia sepertinya anak baik-baik." Duh tak sampai hati rasanya untuk bilang bahwa Herman lah yang selama ini piara Lily. hatiku seperti remuk dan bingung tak tahu harus bagaimana.
Sabtu itu, tiba-tiba Herman datang ke rumah dan memintaku untuk pergi makan dengan nya. Bibiku bilang " pergilah. Kamu harus pergi dan bersenang-senang. Lupakan Edo. Karena Edo tak akan kembali. ini waktumu untuk menemukan pengganti Edo."
Aku pun akhirnya mau pergi dengan Herman. Dia mengajakku ke karaoke. di dalamnya sudah penuh banyak orang yang tidak kukenal. Aku hanya duduk sendiri karena Herman terlalu sibuk dengan teman-teman nya. Ada satu cowok mendekatiku dan mengajakku bicara. Dia memberikanku kartu namanya. Dan kubaca sekilas kartu itu. Namanya Teo (* suamiku sekarang ini). Jam 10, aku pun meminta Herman untuk mengantarkanku pulang. Di jalan, Aku bilang kepadanya bahwa aku sedang mencari pekerjaan. Dan terasa susah untukku mendapatkan satu pekerjaan.
Herman meminta padaku untuk memberikan resume ku dan dia berjanji akan membantuku mencari pekerjaan. Tak kusangka, Herman membantu memeriksa resumeku dan memberitahuku bagian-bagian yang harus diganti. Dan 2 minggu setelah itu, aku pun mendapat panggilan kerja dari salah satu bank swasta. Well, thanks to Herman.
Herman datang ke rumahku lagi. Dia bilang " Hey congrats ya. udah dapet kerjaan.. ayo sekarang traktir makan dong.. kan aku yang bantuin kamu buat masuk kerja." Kupikir ya tak ada salahnya dengan mentraktirnya makan. Bagaimana pun juga aku harus berterima kasih kepadanya.
Kami pergi makan sop buntut. Dan yang tak kusangka adalah, dia meminta imbalan lain utnuk membayar jasanya. Dia meminta sebuah ciuman dariku. Aku marah dan merasa tersinggung. Tapi aku juga takut karena kami sedang berada jauh dan aku tidak tahu jalan pulang. Aku mengancam nya akan telepon ke rumah dan meminta dijemput apabila dia tidak mengantarkanku pulang segera.
Herman akhirnya mau untuk pulang. Dan di tengah jalan pulang, dia tiba-tiba menghentikan mobilnya dan memaksaku untuk berciuman. Aku sangat marah dan kutampar wajahnya. Herman pun mengeluarkan pistol dari kakinya dan dia bilang akan menembakku apabila aku memukulnya lagi.
Aku takut.. sangat takut untuk menceritakan semua itu kepada bibiku. Sampai di rumah aku hanya bisa menangis dan menyesali semuanya. Tapi aku tak punya siapa-siapa untuk bercerita.. Sejak saat itu, aku tidak pernah mau bertemu dan melihat Herman lagi. Kuanggap semuanya sudah tutup buku dan hanyalan menjadi masa lalu yang kelam lagi bagiku.
Another chapter of my life....
Rabu, 09 Juli 2014
Cintaku tak berujung part 2
Namaku Maya, umurku 35 thn. Aku sudah berkeluarga dan memiliki 2 anak yang lucu - lucu. Ingatanku hari ini kembali di saat usiaku mencapai 22 thn. Saat itu adalah masa kuliahku.Masa dimana aku menikmati segalanya. Masa dimana aku ditempa menjadi lebih dewasa dari umurku yang seharusnya.
Aku benar-benar bahagia di saat itu. karena aku bisa kuliah dan bekerja part time malam hari nya sebagai waitress di satu restaurant vietnam. Gaji yang ku dapatkan lumayan bisa membantu semua pengeluaranku selama kuliah sehingga Ibu tak perlu terlalu pusing memikirkanku.
Aku bertemu dengan nya saat aku sedang di perpustakaan sekolah mengerjakan tugas. Aku termasuk salah satu mahasiswi miskin yang tak punya komputer sendiri. jadi setiap pulang sekolah, aku akan pakai komputer umum di perpustakaan. Aku sedang chatting dengan temanku melalui ICQ saat tiba-tiba ada pesan masuk dari orang yang tak ku kenal.
Cowok ganteng di Sydney.. itu nama nickname ICQ nya. Kami pun mulai berkenalan. mungkin disebabkan karena kesendirianku dan kesepianku, kami pun bisa lanjut berbincang dan chatting terus tiap harinya sampai selama 6 bulan. Kami tidak pernah bertemu muka karena dia hidup di Sydney dan aku di Melbourne
Suatu malam, bel berbunyi di apartemenku. Saat kubuka pintu, aku surprise dan kaget melihat nya berdiri di pintu apartemenku. Cowok ganteng di Sydney itu datang. tanpa pemberitahuan dan yang benar - benar mengejutkan, aku tak merasa takut ataupun was-was melihatnya.
Awalnya dia bilang dia hanya berlibur 4 hari saja. Dan dia penasaran denganku, karena itu dia rela memebli tiket untuk terbang ke Melbourne untuk bertemu denganku. Kami menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, aku membawanya pergi dengan teman-temanku dan aku pun mengaturkan perjalanan city tour untuknya.
Dia menikmati segala acara selama disana. dan di hari ke 4, dia berkata, bolehkah dia tinggal lebih lama untuk lebih mengenalku? Aku hanya berpikir apakah dia jodohku? aku pun berpikir bahwa aku tak mau pulang ke indo lagi. Aku mau tinggal selamanya disana. Aku pun memutuskan bahwa mungkin inilah jalan terbaik yang harus aku tempuh.
Kami pun menjalani hari-hari dengan bahagia. Bulan demi bulan kami lalui bersama. Dan pada bulan ke 7, Kami mulai mengurus surat-surat pernikahan dan rekening bank bersama. Aku merasa bahagia. Tapi ada bagian dari hatiku yang masih merasa kosong. Aku tak tahu apa dan kenapa aku mulai ragu dan takut semua itu terlalu indah untukku.
Di bulan yang sama pula, aku mendapat kabaar bahwa aku hamil. Aku langsung merasa freak out dan tidak siap untuk semua itu. Aku menjalani konseling bersama dokter kandungan dan pada bulan ke 3, aku mengambil keputusan bahwa aku hars menggugurkannya. Ini semua demi anak itu. Karena aku tahu, masa depan kami tidaklah seindah yang kami bayangkan.
Hatiku terluka dan merasa tak berdaya. Akhirnya bulan berikutnya, aku memutuskan bahwa aku akan pulang ke Jakarta. Aku ingin menjernihkan hati dan pikiranku sementara aku jauh dari nya. Dia bilang akan menyusulku setelah 1 bulan kepulanganku. Sekaligus untuk berkenalan dan meminta izin pada orang tuaku untuk menikahiku.
2 minggu berlalu. dan aku merasa bahwa aku memang harus melepaskannya. Karena aku tahu dia bukan yang terbaik untukku. Dia hanya mencariku di saat-saat tertentu dan selalu menjanjikan akan datang. tapi tak kunjung tiba. Setelah 1 bulan, aku pun menyatakan kepadanya bahwa kita harus berpisah. karena aku tak merasa kami akan berjalan dengan baik.
Dia pun setuju dan akhirnya kami tak berhubungan lagi. Aku pun mulai mencoba menata hidupku lagi. Aku mulai mencari kerja disini.
Another story of my life.. and another chapter that i have been passed..
Aku benar-benar bahagia di saat itu. karena aku bisa kuliah dan bekerja part time malam hari nya sebagai waitress di satu restaurant vietnam. Gaji yang ku dapatkan lumayan bisa membantu semua pengeluaranku selama kuliah sehingga Ibu tak perlu terlalu pusing memikirkanku.
Aku bertemu dengan nya saat aku sedang di perpustakaan sekolah mengerjakan tugas. Aku termasuk salah satu mahasiswi miskin yang tak punya komputer sendiri. jadi setiap pulang sekolah, aku akan pakai komputer umum di perpustakaan. Aku sedang chatting dengan temanku melalui ICQ saat tiba-tiba ada pesan masuk dari orang yang tak ku kenal.
Cowok ganteng di Sydney.. itu nama nickname ICQ nya. Kami pun mulai berkenalan. mungkin disebabkan karena kesendirianku dan kesepianku, kami pun bisa lanjut berbincang dan chatting terus tiap harinya sampai selama 6 bulan. Kami tidak pernah bertemu muka karena dia hidup di Sydney dan aku di Melbourne
Suatu malam, bel berbunyi di apartemenku. Saat kubuka pintu, aku surprise dan kaget melihat nya berdiri di pintu apartemenku. Cowok ganteng di Sydney itu datang. tanpa pemberitahuan dan yang benar - benar mengejutkan, aku tak merasa takut ataupun was-was melihatnya.
Awalnya dia bilang dia hanya berlibur 4 hari saja. Dan dia penasaran denganku, karena itu dia rela memebli tiket untuk terbang ke Melbourne untuk bertemu denganku. Kami menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, aku membawanya pergi dengan teman-temanku dan aku pun mengaturkan perjalanan city tour untuknya.
Dia menikmati segala acara selama disana. dan di hari ke 4, dia berkata, bolehkah dia tinggal lebih lama untuk lebih mengenalku? Aku hanya berpikir apakah dia jodohku? aku pun berpikir bahwa aku tak mau pulang ke indo lagi. Aku mau tinggal selamanya disana. Aku pun memutuskan bahwa mungkin inilah jalan terbaik yang harus aku tempuh.
Kami pun menjalani hari-hari dengan bahagia. Bulan demi bulan kami lalui bersama. Dan pada bulan ke 7, Kami mulai mengurus surat-surat pernikahan dan rekening bank bersama. Aku merasa bahagia. Tapi ada bagian dari hatiku yang masih merasa kosong. Aku tak tahu apa dan kenapa aku mulai ragu dan takut semua itu terlalu indah untukku.
Di bulan yang sama pula, aku mendapat kabaar bahwa aku hamil. Aku langsung merasa freak out dan tidak siap untuk semua itu. Aku menjalani konseling bersama dokter kandungan dan pada bulan ke 3, aku mengambil keputusan bahwa aku hars menggugurkannya. Ini semua demi anak itu. Karena aku tahu, masa depan kami tidaklah seindah yang kami bayangkan.
Hatiku terluka dan merasa tak berdaya. Akhirnya bulan berikutnya, aku memutuskan bahwa aku akan pulang ke Jakarta. Aku ingin menjernihkan hati dan pikiranku sementara aku jauh dari nya. Dia bilang akan menyusulku setelah 1 bulan kepulanganku. Sekaligus untuk berkenalan dan meminta izin pada orang tuaku untuk menikahiku.
2 minggu berlalu. dan aku merasa bahwa aku memang harus melepaskannya. Karena aku tahu dia bukan yang terbaik untukku. Dia hanya mencariku di saat-saat tertentu dan selalu menjanjikan akan datang. tapi tak kunjung tiba. Setelah 1 bulan, aku pun menyatakan kepadanya bahwa kita harus berpisah. karena aku tak merasa kami akan berjalan dengan baik.
Dia pun setuju dan akhirnya kami tak berhubungan lagi. Aku pun mulai mencoba menata hidupku lagi. Aku mulai mencari kerja disini.
Another story of my life.. and another chapter that i have been passed..
Senin, 26 Mei 2014
cintaku tak berujung part 1
Namaku Maya, umurku 35 thn. Aku sudah berkeluarga dan memiliki 2 anak yang lucu - lucu. Aku masih menyimpan ingatan yang jelas tentang ayahku. Dan semuanya dimulai dari sana.
Saat umur 10 tahun, aku baru pulang sekolah di siang hari. Dan aku mengharapkan akan ada ibuku di rumah yang menyambutku saat aku tiba di rumah. Ternyata yang ada hanyalah suara pertengkaran antara ayah dan ibuku lagi. Nenekku segera menyuruhku masuk dan makan siang. Sembari menemaniku makan, nenek bilang " cepetan habiskan makananmu, abis itu masuk ke kamtar saja!" Aku mengikuti perintah nenek, tanpa tahu apa sebab pertengkaran ayah dan ibu.
Saat umur 11 tahun, tiba - tiba ibuku menangis meraung-raung. dan hanya beberapa patah kata yang keluar dari mulutnya " Dasar laki-laki bajingan, kurang ajar. tega-teganya dia kabur dengan wanita lain!!" Aku masih terdiam dan termanggu. Aku bingung dengan siapa kah orang yang dimaksud oleh ibuku itu? Hatiku bertanya-tanya tapi aku tak mau berucap. Sore hari nya tiba-tiba rumah kami digedor oleh 2 orang preman dan adik ayahku. Kupikir pamanku itu akan datang untuk berkunjung saja. Tapi aku salah. Kulihat preman- preman itu memukuli ibuku, pamanku hanya duduk menonton sambil berkata " kembalikan uangku dulu. Baru kau bisa panggil aku IPAR mu !!"
Ibuku menangis kesakitan dan nenekku lari menghampirinya. Nenek bilang " kamu kan tahu bahwa abangmu sudah lari meninggalkan istri dan anak nya. Dia yang membawa uangmu. Anakku ini tidak bersalah apapun juga !" Mendengar kata nenekku, aku baru mengerti kenyataan nya. Dan aku pun menangis tersedu-sedu.
Aku hanya bisa berpikir dalam hati, ayah macam apakah itu??
Tak tahan dengan kesedihanku itu, aku bertanya " Kemana ayahku lari?" paman jawab " dia sudah kawin lagi di kota lain. dengan janda anak 2. Dia sudah bilang gak akan pulang lagi kesini.!!" Aku begitu terpukul dan aku pun menjawab " bilang padanya, aku sudah tidak punya bapak lagi. Dia sudah aku anggap mati sejak hari ini. dan jangan pernah menyesal suatu hari nanti. Karena saat dia mati, aku tidak akan mau berdiri di kuburannya."
Ibu malah menjadi marah dan dia bilang " kamu tidak boleh bilang gitu. Bagaimana pun juga dia bapakmu. Jangan jadi durhaka."
Aduh bu, tahukah engkau betapa marahnya aku dan kecewanya aku sampai aku bisa mengatakan seperti itu.. aku berpikir bahwa engkau sudah cukup berkorban dan hidup menderita untuk kami semua nya.
Kenangan itu yang akan kubawa sampai mati dan mungkin tak tergantikan oleh apapun.. Sekarang di usiaku ini, aku mulai berpikir kembali dan aku tak pernah menyesali satu kali pun tentang ucapanku.
Saat umur 10 tahun, aku baru pulang sekolah di siang hari. Dan aku mengharapkan akan ada ibuku di rumah yang menyambutku saat aku tiba di rumah. Ternyata yang ada hanyalah suara pertengkaran antara ayah dan ibuku lagi. Nenekku segera menyuruhku masuk dan makan siang. Sembari menemaniku makan, nenek bilang " cepetan habiskan makananmu, abis itu masuk ke kamtar saja!" Aku mengikuti perintah nenek, tanpa tahu apa sebab pertengkaran ayah dan ibu.
Saat umur 11 tahun, tiba - tiba ibuku menangis meraung-raung. dan hanya beberapa patah kata yang keluar dari mulutnya " Dasar laki-laki bajingan, kurang ajar. tega-teganya dia kabur dengan wanita lain!!" Aku masih terdiam dan termanggu. Aku bingung dengan siapa kah orang yang dimaksud oleh ibuku itu? Hatiku bertanya-tanya tapi aku tak mau berucap. Sore hari nya tiba-tiba rumah kami digedor oleh 2 orang preman dan adik ayahku. Kupikir pamanku itu akan datang untuk berkunjung saja. Tapi aku salah. Kulihat preman- preman itu memukuli ibuku, pamanku hanya duduk menonton sambil berkata " kembalikan uangku dulu. Baru kau bisa panggil aku IPAR mu !!"
Ibuku menangis kesakitan dan nenekku lari menghampirinya. Nenek bilang " kamu kan tahu bahwa abangmu sudah lari meninggalkan istri dan anak nya. Dia yang membawa uangmu. Anakku ini tidak bersalah apapun juga !" Mendengar kata nenekku, aku baru mengerti kenyataan nya. Dan aku pun menangis tersedu-sedu.
Aku hanya bisa berpikir dalam hati, ayah macam apakah itu??
Tak tahan dengan kesedihanku itu, aku bertanya " Kemana ayahku lari?" paman jawab " dia sudah kawin lagi di kota lain. dengan janda anak 2. Dia sudah bilang gak akan pulang lagi kesini.!!" Aku begitu terpukul dan aku pun menjawab " bilang padanya, aku sudah tidak punya bapak lagi. Dia sudah aku anggap mati sejak hari ini. dan jangan pernah menyesal suatu hari nanti. Karena saat dia mati, aku tidak akan mau berdiri di kuburannya."
Ibu malah menjadi marah dan dia bilang " kamu tidak boleh bilang gitu. Bagaimana pun juga dia bapakmu. Jangan jadi durhaka."
Aduh bu, tahukah engkau betapa marahnya aku dan kecewanya aku sampai aku bisa mengatakan seperti itu.. aku berpikir bahwa engkau sudah cukup berkorban dan hidup menderita untuk kami semua nya.
Kenangan itu yang akan kubawa sampai mati dan mungkin tak tergantikan oleh apapun.. Sekarang di usiaku ini, aku mulai berpikir kembali dan aku tak pernah menyesali satu kali pun tentang ucapanku.
Kamis, 10 April 2014
Little friends
Just thinking about how lucky we are...
Tiap kali aku lapar, mau makan apapun ada.. tiap kali ngidam pengen jalan, kapan aja bisa...
Tiap pagi ada little friends yang nungguin di depan rumah..
Nunggu buat dikasih makan dan di elus-elus sayang..
Pertama nya sih takut juga.. karena blom pernah deket dan kliatan nya sih mereka bringasan..
tapi semakin lama, semakin jatuh hati..
Tiap kali aku lapar, mau makan apapun ada.. tiap kali ngidam pengen jalan, kapan aja bisa...
Tiap pagi ada little friends yang nungguin di depan rumah..
Nunggu buat dikasih makan dan di elus-elus sayang..
Pertama nya sih takut juga.. karena blom pernah deket dan kliatan nya sih mereka bringasan..
tapi semakin lama, semakin jatuh hati..
Hello.. namaku Maniez
Hello namaku Nori
Makin lama kumpul dengan mereka, makin bikin aku tahu how grateful i am..
Sebelumnya, mereka cuma makan nasi dan tempe atau pun lauk apa aja yang warung deket mau kasih..
Mandi gak pernah... bedak kutu apalagi.. di kasih aja mereka kabur duluan..
Setelah dicoba beberapa kali, baru tau kesukaan mereka beda loh..
Maniez suka makan apa aja... dan bersih.. selesai makan dia periksa lagi sekitar, apa ada yang jatuh..
Nori, makan maunya pake nasi .. rada berantakan sih.. tapi dia tenang soalnya abis itu ada si maniez yang beresin..
Cintaku tak berujung..
Namaku Maya, umur 35 tahun. aku sudah berumah tangga dan punya 2 anak yang lucu-lucu. aku bertemu dengan Edo 13 tahun yang lalu. secara tak sengaja kami bersitatap dan saling melempar senyum di sebuah cafe. Kulihat dia pria yang baik juga dan cukup terbuka. kami pun melewati hari-hari kami berkencan bersama. Dia bilang padaku bahwa dia sudah punya pacar di Amerika. Dan dia akan kembali kesana dalam beberapa minggu lagi. Saat itulah aku sadar, bahwa aku tak akan punya harapan dengannya.
Dia membawaku pulang ke rumahnya saat tahun baru. Dan itulah pertama kalinya aku diperkenalkan kepada orang tuanya. Aku pikir, apakah ini menjadi setitik harapan untukku bisa bersamanya?.. hmm nobody knows... Sampe minggu depannya, dia membawaku untuk makan malam bersama keluarga besarnya. Aku semakin berharap bahwa kami akan bisa bersama. Sejauh ini dia tak pernah memintaku menjadi kekasihnya.
Dan tibalah minggu terakhir dia di jakarta. Sedih dan berat hatiku untuk melepaskannya. dia berjanji bahwa dia akan menghubungiku, memberi kabar dan akan melanjutkan hubungan kami yang sudah dekat. Aku berharap bahwa mungkin bila aku tetap menunggu nya, maka suatu hari dia akan datang dan kembali kepadaku.
Bulan demi bulan kulalui, awalnya kami masih bisa berhubungan melalui chatting di internet dan email. akan tetapi pelan-pelan kurasakan perasaanku mulai padam. Aku semakin menyadari bahwa dia bahagia disana dengan pacarnya. Saat itulah aku mulai membuka hatiku untuk pria lain. Aku mulai berkencan dan dekat dengan Teo.
Aku memulai hari-hariku dengan Teo. Kami bahagia bersama dan akhirnya setelah 2 tahun bersama, kami memutuskan untuk menikah. Sebulan sebelum pernikahan kami, aku mengirimkan undangan ke rumah Edo. aku berharap dia masih mengingatku dan dia bisa hadir disana. Ternyata aku salah. dia tak pernah muncul.
Tahun ke 3 perkawinanku dengan Teo, cukup banyak yang sudah kulalui dengan nya dan membuatku semakin dewasa. Hari itu aku membawa anak kedua ku untuk ke dokter. Dan tak sengaja aku melihat Edo disana. bersama seorang wanita yang sedang mengendong bayi. dia terlihat bahagia. Dia pun melihatku. Dia melempar senyumnya dan seakan hendak memanggilku. tapi aku membuang muka dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Tahun ke 5 perkawinanku, aku mulai berpikir tentang Edo. aku hanya ingin tahu keadaannya sekarang. berapa anak yang dia punya dan satu pertanyaan yang penting adalah mengapa dia tidak mencariku kembali? pertanyaan itulah yang menghantuiku selama ini.
Aku mulai membuka internet dan mencari-cari tentangnya. Sulit sekali diketemukan. Sampai aku melihat foto anjingnya. Kuberanikan diri untuk bertanya, apakah dia Edo yang kukenal? dan ternyata ya, dia lah Edo.
Kami pun menghabiskan hari-hari kami untuk chatting.
Dia bercerita bahwa dia sudah bercerai dengan istrinya. dia punya 1 anak. Dan dia tidak berani kembali untuk mencariku karena malu. Dia merasa bersalah telah memberiku harapan dan meninggalkanku dengan rasa kecewa. Dia menerima undangan pernikahanku dan dia merasa menyesal telah terlambat mencariku kembali. Klise menurutku, tapi dengan bodohnya aku percaya. aku masih bisa merasakan kami masih punya sedikit rasa sayang. walaupun tak mungkin bersatu.
akhirnya kami pun bertemu untuk pertama kalinya setelah 7 tahun terpisah. Kami makan siang bersama merayakan ulang tahunku. Kupikir kami hanya akan selesai sampai disana. ternyata aku salah. kami terus menghabiskan waktu untuk chatting dan curhat. tetapi tak pernah bertemu lagi.
Tahun ke 7 perkawinanku, Edo baru saja bilang bahwa dia sudah punya calon istri. dan dia akan menikah dengannya di akhir tahun ini. Aku turut berbahagia untuknya. Aku mendoakannya yang terbaik. Dan aku tak pernah menghubungi nya lagi. Karena aku tak mau kami terikat terlalu dalam sebelum kami bisa menghentikannya. Edo mengerti itu.
Tahun ke 9 perkawinanku dengan Teo, tiba-tiba aku kangen dengan Edo dan aku menyapanya di Facebook ku. Dia bercerita bahwa dia telah punya 1 anak dengan istrinya. dan dia cukup bahagia. Aku pun bahagia mendengarnya. Kami berlanjut dengan tukar menukar pin bb kami. Kami pun melanjutkan chatting kami melalui bb. Hari demi hari kulewati, dan aku mulai memiliki jadwal baru. Jam 9 - 5 sore adalah jam kami bebincang dengan seru, lucu, saling merayu, manis, dan menghibur satu sama lain.
Tak terasa sudah 1 tahun kami berbincang di BB tanpa bertemu. kami pun merasa bahwa kami penasaran melihat satu dengan lain. akhirnya kami pun berjanji untuk makan siang bersama. Kami bahagia sekali waktu bertemu. Sampai dia menyatakan bahwa dia ingin terus bersamaku dalam Hubungan Tanpa Status. Karena kami masing-masing sudah berkeluarga. Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersamaku di jam kantor. Dan itu semua hanya untuk bersama dan bahagia.
Aku merasa tersanjung.. Sumpah aku benar-benar tersanjung dan hatiku serasa melambung sampai ke langit ke tujuh. Tapi saat aku memandang suamiku Teo saat tidur, aku merasa sangat bersalah. Teo sangat baik kepadaku. aku tak mampu menyakitinya. tapi beberapa bagian hatiku berteriak ingin merasakan percik cinta yang mungkin setelah 10 tahun pernikahan kami menjadi hilang. Aku ingin merasakan masa-masa bahagia, kencan dan rasa thrill pacaran. Tapi itu semua tak kudapatkan dari Teo.
Aku pun mau bertemu lagi dengan Edo. Kami berjanji untuk menonton film bersama. Aku benar-benar merasa seperti anak muda yang sedang kasmaran. Aku berdandan dan bahagia sekali saat pergi. sampai kami masuk ke dalam bioskop. Edo memegang tanganku dan memelukku. kami benar-benar menikmati saat itu walaupun kami merasa bersalah. sebelum pulang dia mencium keningku. Dan dia berkata bahwa akulah hal terbaik yang pernah dia rasakan dalam hidupnya.
Hatiku meleleh dan berbunga-bunga. Sungguh aku sangat bahagia. sampai tak sabar untuk bertemu dengannya lagi. 3 hari kemudian, kami pun bertemu kembali. kami bertemu kali ini di family karaoke. Kami menikmati bernyanyi bersama dan ngobrol. Kami menceritakan semua kegiatan, rasa, keinginan, dan harapan kami.
Dia bertanya kepadaku, apakah dia boleh menciumku? Aku pun hanya meng iya kan. Kami pun berciuman. Duh.. perasaanku benar-benar tercampur aduk dan tak bisa diuraikan. aku merasakan bahagia, tapi aku juga merasa bersalah yang amat sangat dalam. Aku merasa aku kotor. Apa yang harus aku perbuat??
Aku benar-benar bingung. aku tak sanggup memandang wajah Teo suamiku, dan aku juga tak sanggup mengatakan kepadanya bahwa aku telah bersalah.
Otakku tak mampu berpikir jernih. Aku serakah, aku mau hidupku yang sekarang bersama Teo, tapi aku juga mau menghabiskan hari-hariku dengan Edo. Aku selalu berpikir, bagaimana hidupku seandainya aku menikah dengan Edo? apakah aku akan menjadi wanita yang paling bahagia? apakah kami akan setia satu dengan lain seumur hidup? apakah dia akan selalu menyayangiku seperti ini?
Dia membawaku pulang ke rumahnya saat tahun baru. Dan itulah pertama kalinya aku diperkenalkan kepada orang tuanya. Aku pikir, apakah ini menjadi setitik harapan untukku bisa bersamanya?.. hmm nobody knows... Sampe minggu depannya, dia membawaku untuk makan malam bersama keluarga besarnya. Aku semakin berharap bahwa kami akan bisa bersama. Sejauh ini dia tak pernah memintaku menjadi kekasihnya.
Dan tibalah minggu terakhir dia di jakarta. Sedih dan berat hatiku untuk melepaskannya. dia berjanji bahwa dia akan menghubungiku, memberi kabar dan akan melanjutkan hubungan kami yang sudah dekat. Aku berharap bahwa mungkin bila aku tetap menunggu nya, maka suatu hari dia akan datang dan kembali kepadaku.
Bulan demi bulan kulalui, awalnya kami masih bisa berhubungan melalui chatting di internet dan email. akan tetapi pelan-pelan kurasakan perasaanku mulai padam. Aku semakin menyadari bahwa dia bahagia disana dengan pacarnya. Saat itulah aku mulai membuka hatiku untuk pria lain. Aku mulai berkencan dan dekat dengan Teo.
Aku memulai hari-hariku dengan Teo. Kami bahagia bersama dan akhirnya setelah 2 tahun bersama, kami memutuskan untuk menikah. Sebulan sebelum pernikahan kami, aku mengirimkan undangan ke rumah Edo. aku berharap dia masih mengingatku dan dia bisa hadir disana. Ternyata aku salah. dia tak pernah muncul.
Tahun ke 3 perkawinanku dengan Teo, cukup banyak yang sudah kulalui dengan nya dan membuatku semakin dewasa. Hari itu aku membawa anak kedua ku untuk ke dokter. Dan tak sengaja aku melihat Edo disana. bersama seorang wanita yang sedang mengendong bayi. dia terlihat bahagia. Dia pun melihatku. Dia melempar senyumnya dan seakan hendak memanggilku. tapi aku membuang muka dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Tahun ke 5 perkawinanku, aku mulai berpikir tentang Edo. aku hanya ingin tahu keadaannya sekarang. berapa anak yang dia punya dan satu pertanyaan yang penting adalah mengapa dia tidak mencariku kembali? pertanyaan itulah yang menghantuiku selama ini.
Aku mulai membuka internet dan mencari-cari tentangnya. Sulit sekali diketemukan. Sampai aku melihat foto anjingnya. Kuberanikan diri untuk bertanya, apakah dia Edo yang kukenal? dan ternyata ya, dia lah Edo.
Kami pun menghabiskan hari-hari kami untuk chatting.
Dia bercerita bahwa dia sudah bercerai dengan istrinya. dia punya 1 anak. Dan dia tidak berani kembali untuk mencariku karena malu. Dia merasa bersalah telah memberiku harapan dan meninggalkanku dengan rasa kecewa. Dia menerima undangan pernikahanku dan dia merasa menyesal telah terlambat mencariku kembali. Klise menurutku, tapi dengan bodohnya aku percaya. aku masih bisa merasakan kami masih punya sedikit rasa sayang. walaupun tak mungkin bersatu.
akhirnya kami pun bertemu untuk pertama kalinya setelah 7 tahun terpisah. Kami makan siang bersama merayakan ulang tahunku. Kupikir kami hanya akan selesai sampai disana. ternyata aku salah. kami terus menghabiskan waktu untuk chatting dan curhat. tetapi tak pernah bertemu lagi.
Tahun ke 7 perkawinanku, Edo baru saja bilang bahwa dia sudah punya calon istri. dan dia akan menikah dengannya di akhir tahun ini. Aku turut berbahagia untuknya. Aku mendoakannya yang terbaik. Dan aku tak pernah menghubungi nya lagi. Karena aku tak mau kami terikat terlalu dalam sebelum kami bisa menghentikannya. Edo mengerti itu.
Tahun ke 9 perkawinanku dengan Teo, tiba-tiba aku kangen dengan Edo dan aku menyapanya di Facebook ku. Dia bercerita bahwa dia telah punya 1 anak dengan istrinya. dan dia cukup bahagia. Aku pun bahagia mendengarnya. Kami berlanjut dengan tukar menukar pin bb kami. Kami pun melanjutkan chatting kami melalui bb. Hari demi hari kulewati, dan aku mulai memiliki jadwal baru. Jam 9 - 5 sore adalah jam kami bebincang dengan seru, lucu, saling merayu, manis, dan menghibur satu sama lain.
Tak terasa sudah 1 tahun kami berbincang di BB tanpa bertemu. kami pun merasa bahwa kami penasaran melihat satu dengan lain. akhirnya kami pun berjanji untuk makan siang bersama. Kami bahagia sekali waktu bertemu. Sampai dia menyatakan bahwa dia ingin terus bersamaku dalam Hubungan Tanpa Status. Karena kami masing-masing sudah berkeluarga. Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersamaku di jam kantor. Dan itu semua hanya untuk bersama dan bahagia.
Aku merasa tersanjung.. Sumpah aku benar-benar tersanjung dan hatiku serasa melambung sampai ke langit ke tujuh. Tapi saat aku memandang suamiku Teo saat tidur, aku merasa sangat bersalah. Teo sangat baik kepadaku. aku tak mampu menyakitinya. tapi beberapa bagian hatiku berteriak ingin merasakan percik cinta yang mungkin setelah 10 tahun pernikahan kami menjadi hilang. Aku ingin merasakan masa-masa bahagia, kencan dan rasa thrill pacaran. Tapi itu semua tak kudapatkan dari Teo.
Aku pun mau bertemu lagi dengan Edo. Kami berjanji untuk menonton film bersama. Aku benar-benar merasa seperti anak muda yang sedang kasmaran. Aku berdandan dan bahagia sekali saat pergi. sampai kami masuk ke dalam bioskop. Edo memegang tanganku dan memelukku. kami benar-benar menikmati saat itu walaupun kami merasa bersalah. sebelum pulang dia mencium keningku. Dan dia berkata bahwa akulah hal terbaik yang pernah dia rasakan dalam hidupnya.
Hatiku meleleh dan berbunga-bunga. Sungguh aku sangat bahagia. sampai tak sabar untuk bertemu dengannya lagi. 3 hari kemudian, kami pun bertemu kembali. kami bertemu kali ini di family karaoke. Kami menikmati bernyanyi bersama dan ngobrol. Kami menceritakan semua kegiatan, rasa, keinginan, dan harapan kami.
Dia bertanya kepadaku, apakah dia boleh menciumku? Aku pun hanya meng iya kan. Kami pun berciuman. Duh.. perasaanku benar-benar tercampur aduk dan tak bisa diuraikan. aku merasakan bahagia, tapi aku juga merasa bersalah yang amat sangat dalam. Aku merasa aku kotor. Apa yang harus aku perbuat??
Aku benar-benar bingung. aku tak sanggup memandang wajah Teo suamiku, dan aku juga tak sanggup mengatakan kepadanya bahwa aku telah bersalah.
Otakku tak mampu berpikir jernih. Aku serakah, aku mau hidupku yang sekarang bersama Teo, tapi aku juga mau menghabiskan hari-hariku dengan Edo. Aku selalu berpikir, bagaimana hidupku seandainya aku menikah dengan Edo? apakah aku akan menjadi wanita yang paling bahagia? apakah kami akan setia satu dengan lain seumur hidup? apakah dia akan selalu menyayangiku seperti ini?
Langganan:
Postingan (Atom)