Sandra adalah temanku dari SMP.. satu hal yg kuingat tentang dia adalah, badung, tomboy, and dare to challenge things...Dia hamil di usia 18 thn, dan terpaksa menikah saat itu juga.. sejak itu dia menjadi ibu rumah tangga dengan kondisi ekonomi yang serba pas-pas an..
Sudah hampir 13 thn kami tak pernah berjumpa.. bertatap muka.. tapi kami masih kontak by phone or email.. Suatu sore, aku tiba-tiba kangen banget.. aku pengen liat keadaan nya sekarang.. aku bilang "Ma, kita ke rumah Sandra yuk.. nginep semalem aja... " aku ajak ibuku.. Tanpa banyak bicara, kami berdua pun sibuk mengemasi barang-barang kami..
Sore hari nya, kami tiba di rumah sandra.. lama nian kami menunggu, dan akhirnya kami melihat Sandra diujung jalan, sedang berjalan pulang dengan anak nya yang paling kecil, Tia.
Bahagia tak terkira.. kami pun sibuk mengobrol dan kangen-kangenan...
Sandra lihat cincin di jari manisku.. bentuknya hati.. dia bilang " Boleh gak aku pinjem buat semalem ini aja say, aku udah lama kepengen punya cincin seperti ini.. Please ya say.. kan besok pagi sebelum kamu pulang udah aku balikin..."
Aku lepas cincinku dan kupake kan di jari nya.. aku bilang " Gak papa San, kamu pake aja dulu... "
Sandra tiba-tiba menangis... aku pun ikut menangis karena terharu.. Sandra bilang " Aku merasa gak enak banget sama kamu.. hutangku ke kamu aja belum bisa aku lunasi.. dan aku juga gak tau kapan akan bisa melunasi nya.. Aku memang dalam kondisi yang sangat tidak bagus.. Sorry ya say.. aku juga gak nyangka, perkawinanku akan jadi seperti ini.. "
" Gak papa San, jangan pikiri hal itu.. aku bener gak papa kok.. " kataku. Sampe pada jam 8 malam. Kami pun pamit hendak istirahat di kamar.. dan Sandra juga harus menidurkan anaknya..
Jam 10, kami dikejutkan oleh suara pintu yang dibanting.. kaca jendela bergetar.. dan ibuku pun terbangun.. "Neng, kamu keluar gih.. coba kamu intip siapa yang banting pintu.. takutnya maling loh!" kata ibuku.
Aku pun bergegas lari keluar kamar. Aku menuju ke kamar Sandra. Baru saja kakiku menginjakkan ruang keluarga, aku mendengar teriakan-teriakan.. " Kamu GILA!! Kamu gak sadar ya apa yang kamu lakukan.... aku udah gak tahan sama kamu lagi!! " Suara cowok.
dan aku mendengar Sandra menangis dan memohon ampunan.. Tanpa banyak bicara, aku buka pintu kamar Sandra.. dan aku melihat Suami nya berdiri dan menjambak rambut Sandra..
" Ada apa ini!!! kamu apakan Sandra.. Kamu gila ya.. dia kan istri mu" teriakku. Dan tanpa disangka-sangka, Suami nya berbalik badan dan menamparku.. Dia bilang " Siapa kamu? kamu itu cuma tamu aja kok ikut ngurus.. Sandra memang istri ku, jadi ya terserah aku, mau diapakan. jangan ikut campur ya.. atau kamu akan aku pukul sekalian.!! Mending kamu dan ibu mu itu pergi aja dari sini.. malem ini juga.. minggat sono.."
Aku melihat Sandra, dan aku bilang " San, ayo pergi sama aku.. kita ke hotel. ayo San, tinggalin setan ini.. kamu mending cerai aja San sekalian.. " Sesuatu yang tak pernah aku sangka akan aku dengar.. Sandra menjawab " Say, inilah hidupku.. Aku GAK ada niat untuk merubahnya.. Aku hidup hanya untuk anak-anak ku.. aku rela begini karena aku takut, anak-anakku yang akan disakiti olehnya.. Kamu pergi aja sekarang. jangan kesini lagi. Aku malu .. aku malu sekali.. "
Sambil menangis, aku pun mundur.. aku cari ibuku dan mengajak nya untuk berkemas.. Di dalam Taxi, aku bilang " Ma, seperti itu kah perkawinan? emang masih kayak jaman dulu ya istri siap dipukul dan harus nrimo? Aku gak rela ma.. aku gak rela kawin kalo seperti itu.."
Ibu bilang " Nduk, perkawinan gak seperti itu.. perkawinan adalah suatu jalan yang panjang yang harus kamu lalui bersama dengan suami dan anak-anakmu.. Jalan itu gak akan semulus jalan tol.. pasti ada kesedihan nya, ada getirnya.. tapi tidak pernah ada hukum bahwa suami bisa memukuli istrinya dan istri harus nrimo.. Nduk, jangan putus asa, besok-besok kita coba ajak Sandra buat menata hidup baru dan meninggalkan suami nya"
Setelah tiba di Jakarta 2 hari kemudian, aku pun mencoba untuk menelpon Sandra.. tak kunjung diangkat.. Aku coba untuk email dan sms.. tapi tak pernah dibalasnya.. Hati penuh kuatir.. tapi aku berdoa semoga dia baik-baik saja..
Waktu pun bergulir.. seminggu sudah sejak kejadian itu.. aku pun mencoba untuk mencarinya lagi.. "Tut.. Tut.. Hallo, cari siapa?" kata cewek yang angkat telepon..
"Oh, ini siapa ya? saya cari Sandra.. sudah beberapa hari saya coba telpon gak pernah diangkat dan sms gak dijawab." kataku. "Oh, sepertinya gak ada yang kasih tau kamu ya, Sandra sudah meninggal kemarin. Sekarang jenazahnya masih di rumah duka. Gak ada yang urusin. Anak-anaknya ikut saya neh. saya bantuin jaga"
Dunia seakan berputar di kepalaku.. Menangis.. berteriak.. dan penyesalan yang menyesakkan dadaku.. Aku tak menyangka, inilah hasil akhir dari pilihanmu San. Segera aku pergi ke Surabaya lagi. melihat Sandra yang terakhir kali..
Aku tiba di rumah duka.. kosong.. tak ada orang disana.. airmataku meleleh terus dan tak mau berhenti.. aku meratapi nasib Sandra dan betapa mengenaskan hidupnya. Sambil menggantikan baju jenazah, aku menyisir rambutnya, dan mendandani nya secantik yang aku bayangkan dulu.. kulihat lebam di mata kanannya.. dan kuliat bengkak di bagian dada dan lengan nya..
Kuliat di genggaman tangan nya ada sepucuk surat.. isinya " Say, aku tahu kamu pasti akan datang melihatku.. maafin aku ya say. Cincinmu di rampas oleh suamiku. sebelum dia memukuliku. Dia bilang mau dipake buat bayar utang.. Aku malu say.. aku malu sekali.. cincin yang aku janjikan hanya dipinjam semalam berakhir tidak bisa kukembalikan kepadamu.. titip anak-anakku ya say.. Apapun kesalahan suamiku, Maafkan dia juga ya say.. Hidupku memang harus berakhir demi cintaku. Jangan nangis ya.. moga-moga kita bisa jadi sodara di kehidupan mendatang.."
Tangisku semakin menjadi ... aku benar- benar tak menyangka hidupmu hanya senilai cincinku.. San, penyesalan ku semakin dalam .. Cincin itu aku relakan untukmu San...
"Hidupmu bukan senilai cincinku.. tapi martabat dan harga diri suamimu lah yang senilai dengan itu San.. "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar