Namaku Maya, umur 35 tahun. aku sudah berumah tangga dan punya 2 anak yang lucu-lucu. aku bertemu dengan Edo 13 tahun yang lalu. secara tak sengaja kami bersitatap dan saling melempar senyum di sebuah cafe. Kulihat dia pria yang baik juga dan cukup terbuka. kami pun melewati hari-hari kami berkencan bersama. Dia bilang padaku bahwa dia sudah punya pacar di Amerika. Dan dia akan kembali kesana dalam beberapa minggu lagi. Saat itulah aku sadar, bahwa aku tak akan punya harapan dengannya.
Dia membawaku pulang ke rumahnya saat tahun baru. Dan itulah pertama kalinya aku diperkenalkan kepada orang tuanya. Aku pikir, apakah ini menjadi setitik harapan untukku bisa bersamanya?.. hmm nobody knows... Sampe minggu depannya, dia membawaku untuk makan malam bersama keluarga besarnya. Aku semakin berharap bahwa kami akan bisa bersama. Sejauh ini dia tak pernah memintaku menjadi kekasihnya.
Dan tibalah minggu terakhir dia di jakarta. Sedih dan berat hatiku untuk melepaskannya. dia berjanji bahwa dia akan menghubungiku, memberi kabar dan akan melanjutkan hubungan kami yang sudah dekat. Aku berharap bahwa mungkin bila aku tetap menunggu nya, maka suatu hari dia akan datang dan kembali kepadaku.
Bulan demi bulan kulalui, awalnya kami masih bisa berhubungan melalui chatting di internet dan email. akan tetapi pelan-pelan kurasakan perasaanku mulai padam. Aku semakin menyadari bahwa dia bahagia disana dengan pacarnya. Saat itulah aku mulai membuka hatiku untuk pria lain. Aku mulai berkencan dan dekat dengan Teo.
Aku memulai hari-hariku dengan Teo. Kami bahagia bersama dan akhirnya setelah 2 tahun bersama, kami memutuskan untuk menikah. Sebulan sebelum pernikahan kami, aku mengirimkan undangan ke rumah Edo. aku berharap dia masih mengingatku dan dia bisa hadir disana. Ternyata aku salah. dia tak pernah muncul.
Tahun ke 3 perkawinanku dengan Teo, cukup banyak yang sudah kulalui dengan nya dan membuatku semakin dewasa. Hari itu aku membawa anak kedua ku untuk ke dokter. Dan tak sengaja aku melihat Edo disana. bersama seorang wanita yang sedang mengendong bayi. dia terlihat bahagia. Dia pun melihatku. Dia melempar senyumnya dan seakan hendak memanggilku. tapi aku membuang muka dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Tahun ke 5 perkawinanku, aku mulai berpikir tentang Edo. aku hanya ingin tahu keadaannya sekarang. berapa anak yang dia punya dan satu pertanyaan yang penting adalah mengapa dia tidak mencariku kembali? pertanyaan itulah yang menghantuiku selama ini.
Aku mulai membuka internet dan mencari-cari tentangnya. Sulit sekali diketemukan. Sampai aku melihat foto anjingnya. Kuberanikan diri untuk bertanya, apakah dia Edo yang kukenal? dan ternyata ya, dia lah Edo.
Kami pun menghabiskan hari-hari kami untuk chatting.
Dia bercerita bahwa dia sudah bercerai dengan istrinya. dia punya 1 anak. Dan dia tidak berani kembali untuk mencariku karena malu. Dia merasa bersalah telah memberiku harapan dan meninggalkanku dengan rasa kecewa. Dia menerima undangan pernikahanku dan dia merasa menyesal telah terlambat mencariku kembali. Klise menurutku, tapi dengan bodohnya aku percaya. aku masih bisa merasakan kami masih punya sedikit rasa sayang. walaupun tak mungkin bersatu.
akhirnya kami pun bertemu untuk pertama kalinya setelah 7 tahun terpisah. Kami makan siang bersama merayakan ulang tahunku. Kupikir kami hanya akan selesai sampai disana. ternyata aku salah. kami terus menghabiskan waktu untuk chatting dan curhat. tetapi tak pernah bertemu lagi.
Tahun ke 7 perkawinanku, Edo baru saja bilang bahwa dia sudah punya calon istri. dan dia akan menikah dengannya di akhir tahun ini. Aku turut berbahagia untuknya. Aku mendoakannya yang terbaik. Dan aku tak pernah menghubungi nya lagi. Karena aku tak mau kami terikat terlalu dalam sebelum kami bisa menghentikannya. Edo mengerti itu.
Tahun ke 9 perkawinanku dengan Teo, tiba-tiba aku kangen dengan Edo dan aku menyapanya di Facebook ku. Dia bercerita bahwa dia telah punya 1 anak dengan istrinya. dan dia cukup bahagia. Aku pun bahagia mendengarnya. Kami berlanjut dengan tukar menukar pin bb kami. Kami pun melanjutkan chatting kami melalui bb. Hari demi hari kulewati, dan aku mulai memiliki jadwal baru. Jam 9 - 5 sore adalah jam kami bebincang dengan seru, lucu, saling merayu, manis, dan menghibur satu sama lain.
Tak terasa sudah 1 tahun kami berbincang di BB tanpa bertemu. kami pun merasa bahwa kami penasaran melihat satu dengan lain. akhirnya kami pun berjanji untuk makan siang bersama. Kami bahagia sekali waktu bertemu. Sampai dia menyatakan bahwa dia ingin terus bersamaku dalam Hubungan Tanpa Status. Karena kami masing-masing sudah berkeluarga. Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersamaku di jam kantor. Dan itu semua hanya untuk bersama dan bahagia.
Aku merasa tersanjung.. Sumpah aku benar-benar tersanjung dan hatiku serasa melambung sampai ke langit ke tujuh. Tapi saat aku memandang suamiku Teo saat tidur, aku merasa sangat bersalah. Teo sangat baik kepadaku. aku tak mampu menyakitinya. tapi beberapa bagian hatiku berteriak ingin merasakan percik cinta yang mungkin setelah 10 tahun pernikahan kami menjadi hilang. Aku ingin merasakan masa-masa bahagia, kencan dan rasa thrill pacaran. Tapi itu semua tak kudapatkan dari Teo.
Aku pun mau bertemu lagi dengan Edo. Kami berjanji untuk menonton film bersama. Aku benar-benar merasa seperti anak muda yang sedang kasmaran. Aku berdandan dan bahagia sekali saat pergi. sampai kami masuk ke dalam bioskop. Edo memegang tanganku dan memelukku. kami benar-benar menikmati saat itu walaupun kami merasa bersalah. sebelum pulang dia mencium keningku. Dan dia berkata bahwa akulah hal terbaik yang pernah dia rasakan dalam hidupnya.
Hatiku meleleh dan berbunga-bunga. Sungguh aku sangat bahagia. sampai tak sabar untuk bertemu dengannya lagi. 3 hari kemudian, kami pun bertemu kembali. kami bertemu kali ini di family karaoke. Kami menikmati bernyanyi bersama dan ngobrol. Kami menceritakan semua kegiatan, rasa, keinginan, dan harapan kami.
Dia bertanya kepadaku, apakah dia boleh menciumku? Aku pun hanya meng iya kan. Kami pun berciuman. Duh.. perasaanku benar-benar tercampur aduk dan tak bisa diuraikan. aku merasakan bahagia, tapi aku juga merasa bersalah yang amat sangat dalam. Aku merasa aku kotor. Apa yang harus aku perbuat??
Aku benar-benar bingung. aku tak sanggup memandang wajah Teo suamiku, dan aku juga tak sanggup mengatakan kepadanya bahwa aku telah bersalah.
Otakku tak mampu berpikir jernih. Aku serakah, aku mau hidupku yang sekarang bersama Teo, tapi aku juga mau menghabiskan hari-hariku dengan Edo. Aku selalu berpikir, bagaimana hidupku seandainya aku menikah dengan Edo? apakah aku akan menjadi wanita yang paling bahagia? apakah kami akan setia satu dengan lain seumur hidup? apakah dia akan selalu menyayangiku seperti ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar